Suara dari Kampus Hijau Mataram "Sistem Bermasalah, Tapi Mahasiswa yang Dikorbankan"



sumber foto : abang ganteng





Di bawah langit Kampus Hijau Mataram yang biasanya tenang dan bersahaja, suasana justru penuh kegelisahan. Bukan karena materi ujian yang sulit, bukan pula karena kesiapan mental yang goyah. Tapi karena satu hal yang seharusnya bisa diantisipasi sejak awal sistem pembayaran kuliah yang error.

Ya, di hari pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS), sistem payment yang menjadi pintu utama pembayaran SPP mengalami gangguan. Mahasiswa mencoba masuk berkali-kali, memverifikasi, menunggu notifikasi, tapi semua nihil. Tidak bisa membayar, tidak bisa mengakses. Dan yang lebih menyakitkan, mereka justru ditekan oleh aturan: "Jika belum lunas, tidak boleh ikut ujian."

Bukankah ini seperti menendang orang yang sedang jatuh?

Beberapa dosen tetap bergeming. "Aturan tetap aturan," katanya. Tapi siapa yang berani bersuara ketika yang salah bukan mahasiswa? Ketika sistem kampus yang error, mengapa mahasiswa yang diminta menanggung resikonya sendirian?

Mari kita jujur. Kita semua tahu, mahasiswa bukan hanya datang ke kampus untuk duduk di kelas dan mengerjakan soal. Mereka datang dengan harapan, dengan kerja keras, dengan perjuangan orang tua mereka yang mungkin sedang memeras keringat di ladang, di pasar, atau di belakang meja kerja hingga larut malam.

Lalu ketika mereka tak bisa ikut ujian karena satu error teknis dari sistem, apa yang sebenarnya sedang kita pertahankan? Aturan? Disiplin? Atau ketidakpedulian?

Kampus Hijau Mataram seharusnya menjadi ruang tumbuh  bukan hanya tempat belajar, tapi tempat di mana keadilan dikedepankan. Ketika sistem rusak, seharusnya yang diprioritaskan adalah solusi, bukan justifikasi. Ketika mahasiswa kesulitan, seharusnya kita duduk bersama, bukan berdiri membelakangi mereka.

Ini bukan sekadar tentang UAS. Ini tentang rasa keadilan. Tentang empati. Tentang apakah kita benar-benar masih menjadikan pendidikan sebagai ruang kemanusiaan  atau telah menjadikannya mesin yang kaku, yang tak mampu membedakan siapa yang salah dan siapa yang patut dibela.

Apakah kampus akan terus membungkam suara-suara ini? Atau justru mulai mendengarkan?

Kepada para pemangku kebijakan Kampus Hijau Mataram, kami tak meminta keistimewaan. Kami hanya ingin keadilan  bahwa ketika sistem kalian gagal, kami jangan yang disalahkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REPRESI DI DEPAN KANTOR WALI KOTA MATARAM: SUARA RAKYAT PESISIR DIGEBUK, KEADILAN DIABAIKAN