FANATIK
BUTA MAHASISWA
Kampus yang mestinya menjadi taman ilmu, tempat logika tumbuh dan gagasan beradu secara santun, tiba-tiba berubah menjadi arena perebutan simbol. Tidak lagi bicara nilai, tidak bicara ide; hanya siapa paling berhak berdiri di bawah warna tertentu.
Betapa murahan bentuk perjuangan itu. Mahasiswa yang dahulu menulis sejarah dengan darah dan pikiran, kini terjebak memperdebat soal wilayah dan pengibaran kain, seolah selembar simbol lebih berharga daripada makna yang dikandungnya. Mereka mengaku menjaga kehormatan, padahal yang sedang mereka rawat adalah ego yang tak ingin diusik.
Beginilah wajah fanatisme modern, tidak membawa pedang tapi membawa klaim suci atas ruang publik. Tidak menumpahkan darah, tapi menumpahkan logika. Ia berwujud manis dalam kalimat "menjaga identitas", padahal sesungguhnya sedang membunuh rasionalitas perlahan-lahan.
Apa yang lebih menyedihkan dari mahasiswa yang kehilangan daya pikir, namun masih yakin sedang berjuang?
Apa yang lebih ironis dari orang-orang yang mengatasnamakan nilai luhur, tapi menolak berdialog dengan sesama atas nama perbedaan?
Fanatisme sektoral bukanlah semangat juang namun ia adalah penyakit laten yang tumbuh dari kebanggaan buta dan rasa takut kehilangan pengaruh. Dan ketika penyakit itu merasuki ruang kampus, maka kampus berhenti menjadi ruang kebebasan ia berubah menjadi panggung untuk memamerkan kesetiaan semu. Lihatlah betapa mudah mahasiswa hari ini tersulut bukan oleh ketimpangan sosial, bukan oleh ketidakadilan, tapi oleh urusan simbol.
Sejarah mahasiswa dulu diwarnai diskusi, kritik, dan manifesto kini digantikan oleh adu klaim dan adu bendera. Rasanya pantas bertanya: apakah ini generasi penerus perjuangan, atau sekadar penjaga lambang tanpa isi?
Kita bisa menulis ribuan slogan tentang persatuan, tapi selama pikiran masih terkurung dalam tembok sektoral, semua kata itu hanyalah gema kosong.
Kita bisa menyebut diri pejuang, tapi bila yang diperjuangkan hanyalah ego kelompok, maka perjuangan itu telah mati sebelum dimulai.
Pergerakan mahasiswa pernah berakar pada nurani kini ia layu di tangan pengagum simbol. Dan di tengah semua absurditas itu, kampus berdiri seperti saksi bisu yang malu: rumah ilmu yang kini dihuni oleh pikiran-pikiran yang telah kehilangan cahaya.
Mungkin sudah saatnya kita bertanya dengan jujur:
Untuk apa kita belajar, jika akhirnya ilmu hanya dipakai untuk membenarkan fanatisme?
Untuk apa kita berbicara tentang perubahan, jika yang berubah hanyalah bentuk keangkuhan dan membenarkan fanatisme ?
“ fanatik buta yg dibungkus dengan kata cinta membunuh rasionalitas dan dialektika yg dewasa “
Komentar
Posting Komentar